>

Ghazal 3 dan 4 - Muhammad IqbaL

Ghazal 3

Berlawanan arah planet kita berputar, jauh bintang-bintangnya berpusar,

o Saqi!
Dalam setiap debaran atom terdengar ledakan kalimat,

o Saqi!
Iman dan pikiran telah tercerai, meleleh rantai emasnya dari tangan umat-Mu
Dan kekufuran muncul dengan pakaian menawan,

o Saqi!
Obat datang menemui si sakit dan si lemah ini
AnggurTuhan dituangnya kembali seperti dulu,

o Saqi!
Taman Parsia tak berubah, juga tanah, sungai dan Tabriznya
Rumi baru belum lahir kembali di sana,

o Saqi!
Namun andai kering kerontang Iqbal tak akan putus harapan:
Serintik saja hujan, panen akan tiba,

o Saqi!
Rahasia kerajaan telah diberikan pada pengemis ini
Dan kekayaan kaisar Parvis tak seluhur laguku ini.


Ghazal 4

Perlihatkan cawan dan anggur itu kembali,
o Saqi!

Agar ke puncak luhur aku bangkit sekali lagi.
Dalam kedaiku masih tersimpan anggur kemerdekaan,
o Saqi!

Namun generasi tua telah lama melarang menutupinya.
Tiada hati singa di hutan kebenaran sekarang,
o Saqi!

Mereka sekarang sudah layu tanpa jiwa.
Siapa berani mengangkat pedang cinta sekarang,
o Saqi!

Di tangan pengetahuan hanya sarung kosong tergenggam.
Jika dari hati api membara lagi menerangi rumah ini,
o Saqi!

Kata-kata akan menyalakan lagi api kehidupan.
Namun sinar lampu ini telah meredup,
o Saqi!

Jangan renggut relung cahaya dari malamku,
Sebab dalam cawanmu kini kulihat bulan purnama,
o Saqi!
Selengkapnya - Ghazal 3 dan 4 - Muhammad IqbaL

Di Bawah Naungan Cinta - Ibnu Hazm

Cinta tak dimusuhi agama dan tak dilarang syariat-Nya.
Mencintai keindahan dan membiarkan cinta bersemi bukanlah hal yang hina, apalagi dosa.

Kapan[kah] Muhammad mengharamkan cinta,
Dan apakah ia menghina umatnya yang jatuh cinta.
Janganlah kau berlagak mulia,
Dengan menyebut cinta sebagai dosa.

Wahai dara Hubaisy!
Terimalah daku selagi hayat dikandung badanmu!
Sudilah dikau kuikuti dan kutemui di suatu rumah mungil atau di lembah sempit antara dua gunung!
Tidak benarkah orang yang dilanda asmara berjalan-jalan di kala senja, malam buta, dan siang bolong?


*/ “Tidak adakah di antara kalian orang yang penyayang?”
Selengkapnya - Di Bawah Naungan Cinta - Ibnu Hazm

The Mother - Ibu - Khalil Gibran

Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir-bibir manusia.
Dan “Ibuku” merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.

Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita dikala lara, impian kita dalam rengsa, rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi. Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya.

Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu.
Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui panasnya.
Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.
Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan. Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya.
Pepohonan dan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian.

Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud. Penuh cinta dan kedamaian.
Selengkapnya - The Mother - Ibu - Khalil Gibran

Tentang Cinta - Jalaluddin Rumi


Inilah Cinta :
Terbang tinggi ke langit
Setiap saat mencampakkan ratusan hijab
Pertama kali menyangkal hidup (zuhud),
Pada akhirnya (jiwa) berjalan tanpa kaki (tubuh)
Cinta memandang dunia telah raib
Dan tak mempedulikan yang nampak di mata
Ia memandang jauh ke sebalik dunia bentuk-bentuk
Menembus hakikat segala sesuatu

Sang burung terbang tinggi,
Sementara bayang-bayangnya meluncur
di permukaan bumi terbang seperti sang burung.
Orang dungu memburu bayang-bayang itu,
Berlari sampai kehabisan tenaga.
Tanpa mengetahui bahwa yang dikejarnya
Hanyalah pantulan dari sang burung di langit,
Tak menyadari sumber bayang-bayang.

Cinta adalah nyala yang, ketika membara,
Menghanguskan segalanya kecuali Sang Kekasih.
Dia menggerakkan pedang
"tiada Tuhan" untuk membantai "yang selain Tuhan"
Setelah "tiada Tuhan", apalagi yang tersisa?
Masih tertinggal "selain Allah," yang lain telah lenyap.
Bagus, hebat, wahai Cinta yang membakar berhala.

Selengkapnya - Tentang Cinta - Jalaluddin Rumi